Wates – Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Kab. Kulon Progo Ir. Bambang Tri Budi Harsono, M.M. bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) mengikuti Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Tahun 2025 melalui zoom Meeting di Command Room Dinas Komunikasi dan Informatika Kab. Kulon Progo Senin (10/02/2025).
Rakor TPID dipimpin langsung oleh Tomsi Tohir selaku Plt Sekjen Kemendagri dari Gedung Sasana Bhakti Praja, Kemendagri Jakarta dan diikuti oleh para narasumber antara lain Plt Kepala BPS Amalia Adninggar Widyasanti, Direktur Ketersediaan dan Stabilitas Pangan Badan Pangan Nasional I Gusti Ketut Astawa, Deputi II Bidang Perekonomian dan Pangan KSP Edy Priyono, Direktur Bina Pasar Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Nawandaru Dwi Putra, Staf Ahli Menteri Pertanian Bidang Investasi Kementan Suwandi, Kepala Divisi Hubungan Kelembagaan Bulog Epi Sulandari, Direktorat Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Bareskrim Djoko Prihadi, Perwira Tinggi Staf Ahli Ekonomi dan Keuangan TNI Ito Hediarto, Koordinator pada Jaksa Agung Muda Bidang Perdata dan Tata Usaha Negara Edi Handoyo serta dihadiri oleh para Gubernur, Bupati/Walikota se Indonesia secara online.
Selain dihadiri oleh Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Kab. Kulon Progo hadir juga pimpinan atau perwakilan Perangkat Daerah seperti Kejaksaan Negeri Kulon Progo, Badan Perencanaan Pembangunan Riset dan Inovasi Daerah, Badan Keuangan dan Aset Daerah, Inspektorat Daerah, Dinas Perdagangan, Dinas Pertanian dan Pangan, Dinas Kelautan dan Perikanan, Dinas Komunikasi dan Informatika, Dinas Tenaga Kerja, Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman, Dinas Perhubungan, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kalurahan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana, Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Bagian Perekonomian dan Sumber Daya Alam.
Tomsi menyampaikan terkait perubahan IPH pada Minggu I Februari 2025 yang tertinggi Sumatera Barat (2,55) dan terendah Sulawesi Utara -2,84. Sedangkan IPH DIY sebesar -2,59. Tomsi Tohir mengajak kepada seluruh jajaran Kementrian, lembaga dan Pemerintahan Kab/Kota seluruh Indonesia untuk mulai memperkirakan berkaitan dengan kenaikan harga, dalam rangka menghadapi bulan suci Ramadan. Diperlukan adanya konsolidasi antara K/L dengan daerah terkait stok dan angkutannya.
"Menghadapi momen Ramadan dan Idul Fitri perlu diwaspadai kenaikan harga minyak goreng, daging ayam ras, telur ayam ras dan bawang putih. Kelompok yang memberikan andil inflasi terbesar pada bulan ramadan adalah kelompok makanan, minuman dan tembakau. Kemudian, pada bulan saat Idul Fitri, biasanya kelompok yang memberikan andil inflasi terbesar adalah transportasi." ungkap Amalia. Beliau juga menjelaskan perkembangan komoditas yang mengalami kenaikan harga pada Minggu 1 Februari 2025 antara lain cabai merah (244 Kab/Kota), minyak goreng (225 Kab/Kota), gula pasir (131 Kab/Kota). Komoditas yang mengalami penurunan harga antara lain cabai rawit (132 Kab/Kota), bawang putih (132 Kab/Kota), bawang merah (282 Kab/Kota), daging ayam ras (210 Kab/Kota), telur ayam ras (2210 Kab/Kota).
Hal yang sama juga diungkapkan Edy Priyono dari Kantor Staf Presiden (KSP) bahwa komoditas dengan status waspada yaitu rendah (daging sapi, gula pasir curah), sedang (beras medium zona 1 dan 2), tinggi (telur ayam ras, cabai rawit merah, cabai merah besar, jagung Tk.peternak). Sedangkan status tidak aman yaitu rendah (minyakita), sedang (beras medium zona 3, bawang putih).
Hal yang lain diungkapkan oleh I Gusti Ketut Astawa. "Neraca pangan dalam kondisi aman artinya beras, jagung, kedelai, bawang merah, bawang putih, cabai besar, cabai rawit, daging sapi, daging ayam ras, telur ayam ras, gula konsumsi dan minyak goreng, relatif memiliki stok yang cukup. Beberapa komoditas di tingkat produsen dengan harga di bawah HPP/HAP yang perlu menjadi perhatian di antaranya bawang merah, Gabah Kering Panen (GKP) tingkat petani dan GKG tingkat penggilingan. Untuk tingkat konsumen dengan harga di atas HET/HAP diantaranya beras medium zona 3 dan 2, beras premium zona 3, minyak goreng curah, minyakita dan bawang putih Indonesia Timur. " papar I Gusti Ketut Astawa.
Tomsi menanggapi tentang kewaspadaan tren kenaikan bawang putih menjelang Ramadan dan harga minyakita yang stabil namun di atas HET. Diharapkan aturan HET Minyakita tetap dipatuhi.
Djoko Prihadi mewakili Satgas Pangan menyampaikan beras medium dan minyak goreng merek Minyakita terutama di wilayah Indonesia Timur (Papua, Maluku & Kalimantan Barat) untuk harga masih di atas HET. Selain itu masih terdapat harga bahan pokok di atas HET meskipun supply ketersediaan lancar dan stok cukup saat menjelang HBKN Idul Fitri. Satgas Pangan merekomendasikan agar :
- Pemerintah Daerah dapat melakukan upaya-upaya untuk akselerasi dalam pendistribusian. Dimana salah satunya dengan memaksimalkan sarana angkut yang dapat menembus daerah-daerah pedalaman sehingga dapat menstabilkan harga di tingkat produsen hingga konsumen.
- Satgasda dan stakeholder daerah perlu melakukan pengawasan rutin terhadap perkembangan ketersediaan dan harga beberapa bahan pokok yang berpotensi naik harganya menjelang bulan Ramadan dan HBKN Idul Fitri.
Di akhir acara Tomsi meminta TPID dan Tim Pengendalian Inflasi Pusat untuk terus melakukan konsolidasi supaya inflasi terus terkendali. TPID, Kementrian/Lembaga perlu mempersiapkan sampai hari raya, stok, angkutan dan sebagainya. Terakhir beliau berharap akan ada langkah kongkrit untuk mengantisipasi lonjakan harga, dan berupaya menekan terjadinya inflasi menjelang Ramadhan dan Idul Fitri 2025.
Bapak Asisten Perekonomian dan Pembangunan, Bambang Tri Budi Harsono menyampaikan Kulon Progo tidak masuk dalam 10 besar IPH dan IPH Kabupaten Kulon Progo minggu ke 1 Februari 2025 mengalami deflasi sebesar -2,280 dengan andil perubahan Cabai Rawit (-0.6731), Cabai Merah (-0.6196), Bawang Merah(-0.53).
Source: Penulis : Bagian Perekonomian & SDA, Vina Editor : Ny